Lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema lembut membelah kesejukan pagi di Mushola SMK Plus Khoiriyah Hasyim, Sabtu (1/8/2026). Ratusan siswa dan para guru duduk bersila, menyatukan saf dalam deretan dan peci yang rapi. Hari itu, mereka kembali menggelar tradisi suci yang senantiasa dinanti: istighatsah bersama.
Suasana khusyuk makin terasa saat matahari perlahan meninggi. Usai meresapi bait-bait Al-Qur'an, seluruh siswa dan tenaga pendidik menunaikan salat Dhuha berjemaah. Salat sunah ini menjadi pembuka sebelum mereka melantunkan zikir dan doa-doa istigasah secara serentak. Suara gemuruh doa yang dipanjatkan secara bersama-sama menghidupkan suasana mushola, menciptakan kedamaian yang melingkupi setiap sudut ruangan.
Kegiatan spiritual ini merupakan agenda rutin yang diselenggarakan setiap akhir maupun awal bulan. Di tengah padatnya jam pelajaran dan aktivitas sekolah, program ini dirancang khusus untuk mengisi jeda luang di sela-sela waktu salat Dhuha dengan hal bernilai ibadah. Daripada membiarkan waktu berlalu tanpa arti, pihak sekolah memilih untuk merajut kebiasaan baik yang mampu menutrisi rohani para siswanya.
Bagi warga SMK Plus Khoiriyah Hasyim, istighatsah bulanan ini bukan sekadar rutinitas formalitas di atas kertas. Lebih dari itu, momen ini menjadi ruang untuk jeda sejenak dari keriuhan tugas sekolah, mempererat tali silaturahmi antara guru dan murid, sekaligus menautkan hati pada Sang Pencipta demi menyongsong bulan yang baru dengan semangat yang lebih jernih.
Tradisi yang terjaga konsisten ini terbukti membawa dampak positif bagi dinamika belajar mengajar di sekolah. Sejumlah guru mengaku merasakan perubahan sikap pada peserta didik setelah rutin mengikuti istigasah. Para siswa dinilai menjadi lebih tenang, fokus, dan memiliki daya tahan mental yang lebih baik dalam menghadapi tekanan tugas akademis maupun praktik kejuruan yang padat.
Bagi para siswa sendiri, ritual pagi di akhir pekan ini menjadi oase spiritual yang menyegarkan pikiran. Di tengah kepungan gawai dan ritme hidup serba cepat, meluangkan waktu satu jam untuk duduk tenang mendoakan kebaikan diri, keluarga, dan sekolah memberikan kedamaian tersendiri. Momen istigasah ini menjelma menjadi ajang charge energi positif sebelum memasuki pekan yang baru.
Kebersamaan yang terjalin selama prosesi doa juga makin mempererat hubungan emosional antara guru dan murid. Duduk bersimpuh di atas sajadah yang sama tanpa sekat hierarki formal menciptakan ikatan kekeluargaan yang hangat. Senyum dan sapaan akrab usai acara menjadi pemandangan rutin yang melunakkan ketegangan interaksi di dalam kelas selama ini.
Pihak pengelola SMK Plus Khoiriyah Hasyim terus berkomitmen untuk menjaga keberlangsungan agenda ini sebagai bagian dari pembentukan karakter (character building). Sekolah meyakini bahwa keberhasilan meluluskan generasi muda tidak hanya diukur dari tingginya nilai keahlian teknis, melainkan juga dari kokohnya fondasi moral dan spiritual yang melandasi setiap langkah mereka.
Tidak jarang, tangis haru menyelimuti momen pendoaan tatkala para siswa diajak untuk merenungkan perjuangan orang tua dan bimbingan para guru. Suasana emosional ini menjadi sarana penempaan diri yang efektif untuk menanamkan rasa hormat, empati, serta rasa syukur yang mendalam di dalam hati setiap peserta yang hadir.
Ketika rangkaian doa berakhir dan salam penutup digaungkan, pancaran keharmonisan begitu jelas terlihat di wajah para peserta. Dengan hati yang lebih lapang dan pikiran yang segar, seluruh warga SMK Plus Khoiriyah Hasyim melangkah keluar dari mushola, siap melangkah menatap hari-hari mendatang dengan optimisme dan keberkahan yang baru.